Ringkasan Model Pembelajaran Kontekstual Tipe Inquiri Based Learning

Model Pembelajaran Kontekstual Tipe Inquiri Based Learning

 

Model Pembelajaran Kontekstual Tipe Inquiri Based Learning

       A.    Pengertian Model Pembelajaran Kontekstual Tipe Inquiri Based Learning

Kata Inquiry berasal dari Bahasa Inggris yang berarti mengadakan penyelidikan, menanyakan keterangan, melakukan pemeriksaan (Echols dan Hassan Shadily, 2003: 323). Sedangkan menurut “Gulo (2005:84) inquiri berarti pertanyaan atau pemeriksaan, penyelidikan.

Gagasan tentang inquiry based learning telah diperkenalkan sejak lama. Inquiry based learning pertama kali dikemukakan oleh Suchman(1962) yang memandang bahwa hakikat belajar merupakan latihan berpikir melalui pertanyaan-pertanyaan. Sejalan dengan pandangan tersebut.

Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada pemecahan masalah adalah model pembelajaran Inquiry Based Learning. Menurut Wardoyo (2013), Inquiry Based Learning adalah proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dihadapi dengan berbagai sunber informasi sebagai pendukungnya. Model Inquiry Based Learning menekankan ada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan siswa.

Inquiry Based Learning (IBL) adalah sebuah teknik mengajar di mana guru melibatkan siswa di dalam proses belajar melalui penggunaan cara-cara bertanya, aktivitas problem solving, dan berpikir kritis. Hal ini akan memerlukan banyak waktu dalam persiapannya. Inquiry Based Learning biasanya berupa kerja kolaboratif. Kelas dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diberi sebuah pertanyaan atau permasalahan yang akan mengarahkan semua 21 anggota kelompok bekerja bersama mengembangkan proyek berdasarkan pertanyaan tersebut untuk menemukan jawabannya. Siswa belajar tentang bagaimana cara menyusun pertanyaan dan menggunakan pembuktian untuk menjawabnya (Wenning & Khan, 2011).

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran model inquiri based learning yaitu model pembelajaranyang berorientasi pada pemecahan masalah berupa kerja kolaboratif didalammnya terdapat proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dihadapi dengan berbagai sunber informasi sebagai pendukungnya.

      B.     Karakteristik  dan Prinsip Model Pembelajaran IBL

Model inquiry ini berangkat dari asumsi bahwa sejak manusia lahir ke dunia, manusia memiliki dorongan untuk menemukan sendiri pengetahunanya. Ada beberapa hal yang menjadi ciri utama model pembelajaran inquiri ini, yaitu :

a)      Strategi inkuiri menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk menari dan menemukan, artinya strategi inkuiri menempatkan siswa sebagai subjek belajar.

b)      Seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan. Dengan demikian strategi pembelajaran inkuiri menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, akan tetapi sebagai fasilitator dan motivator belajar siswa.

c)      Tujuan dari penggunaan strategi pembelajaran inkuiri adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis.

Pembelajaran inquiri mengacu pada prinsip-prinsip berikut ini:

1.       Berorientasi pada Pengembangan Intelektual.

Tujuan utama dari pembelajaran inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, pembelajaran ini selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar.

2.       Prinsip Interaksi.

Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar, tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri. 

3.       Prinsip Bertanya.

Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan pembelajaran ini adalah guru sebagai penanya. Sebab, kemampuan siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah merupakan sebagian dari proses berpikir. Dalam hal ini, kemampuan guru untuk bertanya dalam 19 setiap langkah inkuiri sangat diperlukan. Di samping itu, pada pembelajaran ini juga perlu dikembangkan sikap kritis siswa dengan selalu bertanya dan mempertanyakan berbagai fenomena yang sedang dipelajarinya.

4.       Prinsip Belajar untuk Berpikir.

Belajar bukan hanya mengingat sejumlah fakta, akan tetapi belajar adalah proses berpikir (learning how to think), yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak. Pembelajaran berpikir adalah pemanfaatan dan penggunaan otak secara maksimal.

5.       Prinsip Keterbukaan.

Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. Tugas guru adalah menyediakan ruang untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengembangkan hipotesis dan secara terbuka membuktikan kebenaran hipotesis yang diajukannya.

         C.    Langkah – Langkah Model Pembelajaran IBL

Secara umum, langkah-langkah model inkuiri based learning sebagai berikut:

1.       Orientasi Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah. Langkah orientasi merupakan langkah yang

sangat penting. Keberhasilan startegi ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan dan kemampuan maka proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan lancar.

2.       Merumuskan Masalah Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan tekateki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akanmemperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.

3.       Merumuskan Hipotesis Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis. Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis

4.       Mengumpulkan data Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.

5.       Menguji hipotesis Menguji hipotesis adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.

6.       Merumuskan kesimpulan Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.

       D.    Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran IBL

Kelebihan model pembelajaran dengan Model IBL ini menurut Roestiyah (2001: 76-77) yakni sebagai berikut:

1.      Dapat membentuk dan mengembangkan “self-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep dasar dan ide-ide lebih baik.

2.      Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi proses belajar yang baru.

3.      Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka.

4.      Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri.

5.      Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.

6.      Situasi proses belajar menjadi merangsang.

7.      Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu.

8.      Memberi kebebasan siswa untuk belajar sendiri

9.      Siswa dapat menghindari dari cara-cara belajar yang tradisional.

10.  Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.

Meskipun model pembelajaran IBL mempunyai banyak kelebihan akan tetapi model pembelajaran IBL juga mempunyai kekurangan antara lain:

1.     Diharuskan adanya kesiapan mental pada siswa.

2.    Perlu adanya proses penyesuaian/adaptasi dari metode tradisional ke pendekatan ini.

 

Terima Kasih

Semoga Bermanfaat

 

 

Daftar Referensi

.

Echols, John M. dan Hassan Shadily. 2003. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,

Gulo, W. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Grasindo.

Roestiyah NK.. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Suchman, J.R. 1962. The Elementary School Training Program in Scientific Inquiry, Report to The U.S. Office of Education, Project Title VII. Urbana: University of Illionis Press.

Wardoyo, S.M. 2013. Pembelajaran Berbasis Riset. Jakarta: Akademia.

Wenning, C. J., & Khan, M. A. (2011). Levels of Inquiry Model of Science Teaching : Learning sequences to lesson plans. Journal of Physics Teacher Education Online, 6(2), 17–20.

 

 

 

 

 

Post a Comment

0 Comments