A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran IPS SD
Pendekatan memiliki makna metode pandang terhadap suatu dengan bertolak balik dari anggapan tertentu. Bagi Lefudin (2017: 237) pendekatan ialah sesuatu jalur, metode ataupun kebijaksanaan yang ditempuh oleh guru ataupun partisipan didik dalam pencapaian tujuan pengajaran apabila kita melihatnya dari sudut seperti apa proses pengajaran ataupun modul pengajaran itu dikelola Pendekatan pendidikan bisa dimaksud selaku titik tolak ataupun sudut pandang kita terhadap proses pendidikan, yang merujuk pada pemikiran tentang terbentuknya sesuatu proses yang sifatnya masih sangat universal, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, memantapkan, melatari tata cara pendidikan dengan cakupan teoritis tertentu (Susanto, 2013: 195). Sehingga, pendekatan pendidikan ialah sesuatu metode ataupun titik tolak terhadap proses pengelolaan dalam pendidikan. Pengajaran IPS digunakan selaku sebutan teknis pedagogis buat proses pendidikan dalam mata pelajaran IPS. Pendekatan dalam pelajaran IPS, spesialnya pada jenjang SD dimaksudkan selaku metode pandang terhadap proses belajar siswa dalam mata pelajaran IPS serta upaya penciptaan keadaan kelas yang kondusif terbentuknya proses belajar. Pendekatan ialah aspek berarti dalam memastikan keberhasilan pendidikan IPS. Pendekatan yang diseleksi buat seting kelas tertentu memastikan corak perinci kegiatan pendidikan di kelas tersebut. Pendekatan wajib diseleksi cocok dengan ciri siswa, supaya aktivitas belajar mengajar berjalan dengan efisien serta tujuan pendidikan gampang dicapai.
Pendekatan sangat berarti untuk guru paling utama guru dalam mata pelajaran IPS tidak hanya berperan selaku manajer kelas serta fasilitator belajar, pula jadi teladan social actor. Oleh sebab itu, dengan menekuni bermacam tipe pendekatan dalam pendidikan, bisa menaikkan yakin diri seseorang guru buat melakukan panggilan jiwanya selaku pendidik. Pendekatan tergantung pada bermacam perihal, semacam tingkatan pembelajaran, tujuan, serta area pembelajaran anak. Artinya, guru wajib memilah pendekatan yang cocok dengan kebutuhan modul ajar yang dituangkan dalam perencanaan pendidikan.
B. Jenis-jenis Pendekatan Pembelajaran IPS SD
A. Pendekatan Disiplin
Pendekatan disiplin merupakan suatu program yang bertitik tolak dari sesuatu disiplin ilmu tertentu (misalnya dimulai dari disiplin sejarah atau dari geografi atau dari ekonomi, dan sebagainya). Dalam pendekatan disiplin pola kerangka atau sistematika disiplin tersebut merupakan titik tolak dalam menyampaikan konsep-konsep IPS kemudian ditambahkan konsep-konsep disiplin lainnya untuk mendukung konsep-konsep disiplin tersebut.
1. Cara Penyampaian dalam Pendekatan Disiplin (Struktur)
Dalam pendekatan disiplin, struktur mata pelajaran haruslah merupakan gambaran yang jelas tentang sistematika dari suatu disiplin. Hal ini mendorong untuk menyampaikan bahan pelajaran secara terpisah-pisah (menggunakan pendekatan terpisah atau disebut “separated subject approach”. Hal ini sangat merugikan dan bertentangan dengan prinsip IPS. Cara yang tepat dengan mengubah sistematika atau struktur disiplin, dengan menautkan konsep-konsep lain yang bersifat menunjang (pendekatan “correlated”) yang dilakukan secara okasional maupun sistematis. Atau dengan cara lain membentuk unit yang terdiri dari sekumpulan konsep-konsep dari sesuatu disiplin yang berkaitan dan didukung oleh konsep-konsep yang lain.
2. Sifat-sifat Pendekatan Disiplin (Struktur)
a. Tujuan Pendekatan Disiplin (Struktur)
1) Mendukung tujuan IPS dalam kurikulum.
2) Untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam tentang konsep-konsep ilmu sosial tertentu.
3) Untuk menelaah lebih lanjut tentang lingkup utama kegiatan manusia (major areas of human activities).
4) Untuk memberikan bahan yang lebih banyak dan lebih luas kepada IPS.
5) Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas pertautan kosep-konsep tertentu dari suatu disiplin dengan disiplin yang lain.
b. Sifat Pendekatan Disiplin (Struktur)
1) Harus bersifat struktur (yang terdiri dari konsep dan generalisasi) dari disiplin tertentu yang dapat menunjang IPS.
2) Yang dapat memungkinkan dilakukannya korelasi.
3) Menunjang disiplin yang lain.
4) Mempunyai beberapa konsep yang dapat disorot (high-light).
5) Bahan-bahan lebih diutamakan yang bersangkutan dengan “major area of human activities”.
c. Sifat Kegiatan dalam pendekatan Disiplin (Struktur)
1) Dalam proses belajar mengajar hendaknya lebih banyak diberikan tugas kepada anak untuk mencari sumber-sumber diluar buku teks. Misalnya dari surat kabar majalah dan sebagainya.
2) Lebih banyak tugas-tugas membaca (perpustakaan).
3) Lebih banyak tugas untuk studi lapangan (out door study).
4) Tiap-tiap tugas haruslah diakhiri dengan karya tulis kelompok atau perorangan.
3. Penggunaan Pendekatan Struktur di Dalam IPS
a. Alasan-alasan pengunaan pendekatan struktur (disiplin)
1) Pengaruh disiplin ilmu-ilmu sosial didalam IPS sangatlah besar
a) Sumbangan disiplin kepada IPS yang berupa ide-ide dasar, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, serta teori-teori dari pada disiplin itu sendiri.
b) Metedologi ilmu sosial yang dibawa masuk kedalam IPS.
2) Untuk mendapatkan gambaran tentang kontinuitas antara konsep-konsep ilmu-ilmu sosial tersebut .
3) Untuk mendapatkan gambaran tentang struktur dari ilmu-ilmu sosial tertentu.
4) Untuk mendapatkan kedalaman pembahasan tentang konsep-konsep ilmu-ilmu sosial tersebut.
5) Keperluan siswa untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam sebagai bekal untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi/universitas.
6) Pada sekolah-sekolah tertentu jurusan-jurusan khusus membutuhkan pendalaman tentang sesuatu konsep dari suatu disiplin sehingga memerlukan kekhususan dalam penyampaian.
7) Pengaruh program mengajar yang tersedia (dengan latar belakang pendidikannya).
8) Adanya sumber-sumber bahan buku-buku teks yang tersedia.
9) Metode-metode yang ada banyak dikenal bersifat “subject centered”
10) Alat-alat peraga yang ada disekolah pada umumnya tersedia untuk mata-mata pelajaran tertentu.
b. Pelaksanaan Penggunaan Pendekatan Struktur Disiplin Dalam IPS
1) Memilih pokok-pokok bahasan/sub pokok bahasan dalam kurikulum yang tidak disampaikan melalui pendekatan inter disiplin, multidisiplin atau kemasyarakatan.
2) Menyusun pokok bahasan/sub pokok bahasan dari kurikulum yang mempunyai hubungan/relevansi yang erat menjadi suatu unit.
3) Mengambil pokok-pokok bahasan yang dianggap kunci (key-concept) untuk dijadikan inti (inti “topicweb”) yang kemudian didukung oleh konsep-konsep lainnya.
4) Mempertautkan sesuatu pokok bahasan/sub pokok bahasan yang berupa konsep dari suatu disiplin dengan beberapa konsep dari disiplin lain yang terdapat dalam bagian lain dari kurikulum.
c. Kesulitan-Kesulitan yang Dihadapi dalam Pendekatan Disiplin
1) Penyusunan suatu satu pembelajaran dengan pendekatan ini adalah sangat sulit, karena tidak adanya pedoman yang tegas untuk memilih pokok bahasan kunci dan pokok-pokok bahasan pendukung.
2) Pandangan tiap-tiap pengajar tentang suatu konsep, kedalaman maupun keluasannya, sangat tergantung pada latar belakang pendidikannya.
3) Keterampilan guru untuk mempertautkan konsep-konsep sangatlah terbatas dan dipengaruhi oleh berbagai faktor (antara lain waktu, kesempatan, reference, dan sebagainya).
B. Pendekatan Interdisiplin
Interdisipliner ialah interaksi intensif antar satu ataupun lebih disiplin, baik yang langsung berhubungan maupun yang tidak, lewat program-program studi, dengan tujuan melakukan integrasi konsep, tata cara, dan analisis. Pengertian lain dari pendektatan interdisipliner (interdisciplinary approach) ialah pendekatan dalam pemecahan suatu kasus dengan mengenakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu yang serumpun serta relevan secara terpadu (Sudikan :2015).
Yang dimaksud sebagai ilmu serumpun ialah ilmu-ilmu yang terletak dalam rumpun ilmu tertentu, yakni rumpun Ilmu-ilmu Kelaman (IIK), rumpun Ilmu-ilmu Sosial (IIS) maupun rumpun Ilmu-ilmu Budaya (IIB) sebagai alternatif. Ilmu yang relevan maksudnya ilmu-ilmu yang cocok digunakan dalam pemecahan suatu kasus. Terdapat pula istilah terpadu, yang dimaksud selaku ilmu-ilmu yang digunakan dalam pemecahan permasalahan melalui pendekatan ini terjalin satu sama lain secara tersirat (implicit) ialah sesuatu kebulatan maupun uraian tercantum dalam masing- masing sub-sub uraiannya bila pembahasan maupun uraian itu terdiri dari sub-sub uraian. Karakteristik pokok ataupun kata kunci dari pendekatan interdisipliner ini merupakan inter (terpadu antar ilmu dalam rumpun ilmu yang sama) ataupun terpadunya itu.
C. Pendekatan Kemasyarakatan
Pendekatan kemasyarakatan ialah suatu titik pandang yang digunakan buat membongkar sesuatu kasus (Sudikan :2015). Dalam pendekatan kemasyarakatan ini, warga berfungsi selaku titik fokus ulasan dalam pendidikan IPS. Maksudnya seluruh komponen yang terdapat di dalamnya diambil dari serta bertujuan pada warga dekat. Dalam pendekatan kemasyarakatan ini ada sebagian tujuan antara lain:
1. Mengenali serta memahami pergantian dan pertumbuhan terlebih dulu daripada yang diketauhi oleh sekolah.
2. Mengenali kebutuhan dan harapan-harapan warga tentang pembelajaran di sekolah yang diimplementasikan untuk membina, membangun, serta meningkatkan warga.
3. Bisa langsung berpartisipasi dalam aktivitas yang diselenggarakan oleh warga, guna buat latihan hidup serta memperoleh pengalaman di lapangan secara nyata.
4. Memperluas pengetauhan serta penafsiran di sekolah serta luar sekolah sehingga menemukan pengetauhan yang lebih luas serta mendalam.
5. Dengan terdapatnya pergaulan siswa yang ada di dalam warga mempunyai khasiat semacam memiliki perilaku ramah tamah, suka membantu, kecakapan social skill serta group skill, membiasakan diri ke dalam bermacam suasana dan dapat pengaruhi warga yang semula berakibat negatif jadi positif.
D. Pendekatan Lingkungan
Pendekatan lingkungan adalah penggunaan atau pemanfaatan lingkungan untuk memperlancar atau mencapai keberhasilan dalam belajar (Nasution, 2003: 54). Pendekatan lingkungan melibatkan panca indera seseorang dalam menulis, jadi pendekatan lingkungan dalam pembelajaran yaitu pemanfaatan atau menggunakan segala sesuatu yang ada di lingkungan, baik berupa keadaan fisik maupun non fisik sebagai suatu untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Lingkungan menyediakan (stimulus) terhadap individu dan sebaliknya individu juga memberikan respon terhadap lingkungan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan pendekatan lingkungan itu adalah menggunakan atau memanfaatkan lingkungan siswa sebagai sumber belajar untuk keperluan belajar dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Dalam pelaksnaan pembelajaran IPS dapat membawa kelas ke lingkungan disekitar, ini berarti pembelajaran IPS akan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam pelajaran IPS. Lingkungan sebagai sumber belajar dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu lingkungan sebagai sumber belajar yang dirancang dan lingkungan sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan.
Pemanfaatan lingkungan dalam pengajaran memiliki keuntungan praktis dan ekonomis. Keuntungan praktis karena mudah diperoleh/didapat, sedangkan keuntungan ekonomis yaitu karena murah dan mudah dijangkau oleh seluruh siswa. Dengan pemanfaatan lingkungan sekaligus juga memanfaatkan kepedulian siswa untuk mencintai lingkungan belajarnya. Hal ini akan terasa bermakna, bermanfaat dan langsung dapat dirasakan oleh siswa. Contoh pendekatan kelingkungan adalah fenomena tanah longsor di suatu wilayah dan fenomena banjir di suatu daerah. Fenomena ini bisa diidentifikasi melalui tahapan dalam pendekatan lingkungan yang hasilnya dapat dianalisa untuk menemukan solusi masalah.
E. Pendekatan Tradisional
Pendekatan Tradisional merupakan pendekatan dimana guru cenderung lebih aktif dibanding peserta didik dan metodenya cenderung monoton. Pendekatan atau model pembelajaran tradisional cenderung berasumsi bahwa peserta didik memiliki kebutuhan yang sama, dalam ruang kelas yang tenang, dengan kegiatan materi pembelajaran yang terstruktur secara ketat dan didominasi oleh guru (Suhada, 2010:60).
Pendekatan tradisonal terdiri dari pendekatan Deduktif dan Induktif. Pendekatan deduktif diawali dari konsep-konsep yang telah dipahami oleh siswa kemudian dicarikan contoh-contoh fakta dan data pendukungnya di masyarakat. Adapun pendekatan Induktif, diawali dari mengemukakan kenyataan-kenyataan yang ada di dalam masyarakat berupa fakta dan data. Guru dapat mengangkat contoh-contoh konkret dan kenyataan yang ada di dalam masyarakat kemudian menarik generalisasi dari fakta dan data menjadi sebuah konsep. Misalnya, fenomena korupsi, kemiskinan, lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan sosial. Pendekatan induktif dan dedukti saling menunjang untuk menanamkan konsep pada siswa.
1. Metode metode Pendekatan Tradisional
a. Metode Ceramah
Metode ceramah adalah suatu bentuk pengajaran dimana guru mengalihkan informasi kepada sekelompok besar atau siswa dengan cara yang terutama bersifat verbal, dalam artian penyajian pelajaran dengan penjelasan lisan secara langsung dari pengajar terhadap peserta didik. Metode ini yang mempunyai peran utama adalah guru.
b. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab adalah sebagai format interaksi antara guru dan siswa melalui kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respon lisan sehingga dapat menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa. Tujuan pemakain metode tanya jawab sebagai berikut:
1) Mengecek pemahaaman siswa sebagai dasar perbaikan proses pembelajaran
2) Membimbing para siswa untuk memperoleh suatu ketrampilan yang kognitif maupun sosial
3) Memberikan rasa aman kepada siswa melalui pertanyaan yang pastinya terjawab
4) Mendorong siswa untuk melakukan penemuan dalam memperjelas suatu masalah
5) Membimbing dan mengarahkan jalannya diskusi kelas.
F. Pendekatan Inkuiri
Pengurutan dapat diuraikan sebagai cara untuk bertanya dan memilah tanggapan terhadap pertanyaan logis yang disampaikan instruktur kepada understudies. Penyelidikan logis adalah penyelidikan yang dapat mengarahkan pengganti ke pemeriksaan objek penyelidikan. Dengan cara ini, inkuiri adalah interaksi menemukan, memperoleh, dan mendapatkan data melalui persepsi dan analisis logis tambahan menggunakan kapasitas penalaran dasar, tertib, dan sah (Adi, D. P. 2020).
Model pendekatan inkuiri (Rusman, 2013) adalah pengerahan yang dilakukan oleh instruktur untuk merancang metodologi yang telah direncanakan sebelumnya sehingga interaksi metodologi berjalan sesuai program pendidikan untuk membimbing siswa untuk bergerak menuju latihan baik di ruang belajar maupun di luar wali kelas (Ali, M. 2020). Salah satu model pendekatan yang dapat diterapkan oleh pendidik adalah model pendekatan incuiry. "inkuiri" berasal dari bahasa Inggris yang bermaksud mengarahkan pemeriksaan, meminta data, memimpin penilaian.
Teknik inkuiri adalah metode memperkenalkan latihan yang menawarkan pengganti kesempatan untuk menemukan data dengan atau tanpa bantuan instruktur. Model pendekatan yang tidak berbahaya lebih menggarisbawahi perspektif pengganti sehingga siswa mampu secara otonom untuk mengatasi masalah ini. Yang menyiratkan interaksi pendekatan penyelidikan ini bergerak menuju sudut pandang, sehingga untuk situasi ini akan ada hubungan komplementer antara pendidik dan siswa untuk mengenali pemikiran kritis dan mendesak siswa untuk memiliki pilihan untuk membedakan masalah secara otonom. Model ini idealnya mencakup seluruh kapasitas siswa dalam latihan pendekatan untuk melihat atau mengeksplorasi sesuatu yang metodis, cerdas dan pada dasarnya. Latihan inquencing biasanya disebut latihan pengungkapan, mengingat fakta bahwa dalam understudies penetasan akan berusaha menemukan informasi/ data tentang sesuatu yang belum jelas dan perlu diketahui oleh understudies.
Tugas para pendidik dalam menghadapi pendekatan tersebut diandalkan untuk meningkatkan hasil pembelajaran understudies. Pendidik mahir harus memiliki pada tingkat kemampuan penting (keterampilan) dan mentalitas sebagai instruktur yang mendapatkan kepercayaan untuk bersiap-siap untuk masa depan negara. Keempat kapasitas tersebut adalah (1) mendominasi program pendidikan, (2) mendominasi topik, (3) mendominasi strategi dan penilaian dan eksekusi, serta (4) memiliki tanggung jawab dan kontrol yang tinggi dalam pelaksanaan usaha (Ayu, M. P. 2020). Teknik untuk pendekatan yang ditawarkan oleh instruktur dengan metodologi berorientasi konteks atau secara teratur disebut Contextual Teaching And Leaming approach (CTL). Pendekatan CTL memiliki tujuh segmen utama, untuk menjadi konstruktivisme spesifik (Konstruktivisme), menemukan (Inquiri), bertanya (Questioning), belajar daerah lokal (Komunitas Pembelajaran), menunjukkan (Pemodelan), refleksi (Refleksi) dan penilaian bonafide. Dengan masing-masing dari tujuh segmen CTL. Salah satu bagian yang akan dicoba adalah model pendekatan permintaan.
Secara umum model pendekatan inkuiri menggarisbawahi kemampuan untuk mengaudit keadaan mereka saat ini semakin pada dasarnya dan melatih pengganti untuk menyelesaikan pilihan dengan hati-hati (Bati, S. 2020). Berbicara secara komprehensif, model pendekatan permintaan adalah model metodologi yang berkaitan dengan materi pembelajaran dengan wawasan pengganti. Pertemuan setiap pengganti akan didefinisikan dan ditutup bersama-sama. Penalaran dasar adalah salah satu kualitas individu yang cerdas. Dalam latihan pendekatan, penalaran dasar sangat signifikan.
Untuk berpikir pada dasarnya, untuk memiliki pilihan untuk mengatasi setiap masalah atau untuk mendapatkan kecakapan dengan berbagai informasi baru, dalam metodologi siswa harus berusaha untuk membangun berbagai perspektif dinamis (Bati, S. 2020), termasuk:
1. Dengarkan baik-baik.
2. Bedakan atau detail pertanyaan.
3. Menyusun kontemplasi provokatif.
4. Fokus pada likeness dan kontras.
5. Berpikir dari umum ke luar biasa.
6. Mengenali ujung yang substansial dan tidak valid.
7. Cari tahu cara berpose menjelaskan pertanyaan (seperti mengapa).
Inkuiri terpadu diatur dengan susah payah, diarahkan, dan difokuskan untuk mendapatkan dari kelompok instruksional penjaga sekolah dan pendidik hingga understudies, dipandu melalui unit pemeriksaan berbasis rencana pendidikan teratas ke bawah dan pemahaman mendalam tentang mata pelajaran mereka.
Inkuiri terpandu adalah metode yang layak untuk mencari tahu bagaimana merencanakan pengganti untuk merenungkan latihan, dengan tujuan bahwa mereka dapat menang dalam tes yang sah. Inkuiri terpandu menargetkan evaluasi bagi siswa tentang keadaan yang terhubung dengan interaksi. Dengan demikian, understudies memiliki pentingnya dan pemanfaatan pembelajaran dalam kehidupan mereka (Zainuddin, M. 2020), seperti
1. Orientasi
Orientasi adalah tahap yang diambil instruktur untuk mengkondisikan bahwa understudies disiapkan untuk menyelesaikan interaksi pembelajaran.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah adalah tahap untuk membawa siswa ke masalah.
3. Mengajukan hipotesis
Mengajukan hipotesis adalah tanggapan singkat terhadap masalah yang sedang disurvei.
4. Mengumpulkan data/ informasi
Tahap ini adalah aksi penangkapan data yang diharapkan dapat menguji spekulasi yang diusulkan. Dalam inkuiri terpandu diselesaikan bersama-sama dikalangan pendidik dan siswa.
5. Teori pengujian/hipotesis
hipotesis adalah interaksi menentukan respons yang sesuai yang dipandang sesuai informasi dan data yang diperoleh tergantung pada bermacam-macam informasi.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah cara untuk menggambarkan penemuan yang diperoleh tergantung pada efek setelah pengujian teori.

0 Comments