Model Pembelajaran Blended Learning

 

Model Pembelajaran Blended Learning

KELOMPOK 8

NAMA
1. Muhammad Ali Irkham                191330000458
2. Muhamad Reizal Muhaimin          191330000459
3 Linda Febrianingrum                    191330000474
4. Almirah Azmi                              191330000568


A. Pengertian Blended Learning

Untuk Menunjang Kemajuan Pendidikan Perlu adanya peningkatan dalam bidang pendidikan yaitu dengan cara Memperbarui Model-Model Pembelajaran, Dalam Memperbarui Model Pembelajaran Saat ini Kita fokus ke Model Pembelajaran Blended learning, Kurtus (2004) Menyampaikan Bahwa "blended learning is a mixture of the various learning strategies and delivery methods that will optimize the learning experience of the user". Yang artinya Blended Learning merupakan Pembelajaran campuran tapi menggunakan strategi dan penyampaian yang lebih optimal dengan percampaian yang bisa di cakup semua Peserta didik.

        Dalam Pembelajaran Blended learning ini Kita bisa Memanfaatkan Teknologi Pendidikan yang saat pandemi ini berlangsung kita ada cara baru dalam penyampaian belajar yaitu adalah Daring/Online. Dalam Pemanfaatan teknologi pendidikan yang kita kenal sekarang ini Daring/Online kita bisa menciptakan sistem pembelajaran baru yang berasal dari sumber internet. Jauh sebelum Pandemi kita masih di berikan cara pemanfaatan Teknologi ini karena kita hanya di berikan Teori Pemanfaatan sistem online dalam Tatap muka. Sekarang saat pandemi ini berlangsung kita mau tidak mau harus menekan teori pemanfaatan online ini lebih mendalam. Pemanfaatan Sistem Online ini ada banyak cara, Antara Lain : Membuat Link yang bisa memuat Presensi, Membuat Tugas dengan ketikan Word, Membuat Blog Untuk Pengupulan Tugas dan Banyak lagi. Seperti Yang di sampaikan Oleh Allen, Seaman, and Garrett (2007: 5) Yang mendefinisikan Blended Learning Yaitu: The definition of on online Program or Blended Program is similar to the definition used for course; an online program is one where at least 80 Percent of the program content is delivered online and a blended Program is one where beetwen 30 and 79 percent of the program content is delivered online.

       Dari beberapa definisi dapat kita simpulkan bahwa Blended Learning yaitu Sebuah Metode Pembelajaran Campuran yang menggabungkan antara pembelajaran tatap muka (face-toface) dengan e-learning serta menggunakan strategi yang optimal agar bisa di cakup semua peserta didik.. Blended learning merupakan konsep baru dalam pembelajaran dimana penyampaian materi dapat dilakukan di kelas dan online. Pemanfaatan Metode pembelajaran bisa kita peroleh dari mana saja karena kita sebelumnya mendapat masalah dan kita bisa menyelesaikan, Sebelumya kita dapat masalah pandemi maka kita merombak semua metode pembelajaran dengan daring.

B. Karakteristik Blended Learning

Pembelajaran berbasis blended learning diawali semenjak ditemui pc, meski saat sebelum itu pula telah berlangsung terdapatnya kombinasi( blended). Terbentuknya pembelajaran, awal mulanya sebab terdapatnya tatap muka serta interaksi antara pengajar serta pelajar, sehabis ditemui mesin cetak hingga guru menggunakan media cetak. Pada dikala ditemui media audio visual, sumber belajar dalam pendidikan mengombinasi antara pengajar, media cetak, serta audio visual. Tetapi blended learning timbul sehabis berkembangnya teknologi data sehingga sumber bisa diakses oleh pembelajar secara offline ataupun online. Dikala ini, pendidikan berbasis blended learning dicoba dengan mencampurkan pendidikan tatap muka, teknologi cetak, teknologi audio, teknologi audio visual, teknologi pc, serta teknologi m- learning( mobile learning). Dalam blended learning ada 6 faktor yang wajib terdapat, ialah:( 1) tatap muka( 2) belajar mandiri,( 3) aplikasi,( 4) bimbingan,( 5) kerjasama, serta( 6) evaluasi

    1. Tatap Muka Pendidikan tatap muka telah dicoba saat sebelum ditemuinya teknologi cetak, audio visual, serta pc, pengajar selaku sumber belajar utama.

      2. Belajar Mandiri Dalam pembelajaran berbasis Blended Learning, bakal banyak sumber belajar yang wajib diakses oleh partisipan didik, karna sumber- sumber tersebut tidak cuma terbatas pada sumber belajar yang dipunyai pengajar ataupun bibliotek lembaga pendidikannya saja, melainkan sumber- sumber belajar yang terdapat di bibliotek segala dunia.

    3. Aplikasi Aplikasi dalam pembelajaran berbasis blended learning bisa dicoba lewat pembelajaran berbasis permasalahan, pelajar hendak secara aktif mendefinisikan permasalahan, mencari bermacam alternatif pemecahan, serta melacak konsep, prinsip, serta prosedur yang diperlukan buat membongkar permasalahan tersebut

   4. Tutorial Pada tutorial, peserta didik yang aktif buat mengantarkan permasalahan yang dialami, seseorang pengajar hendak berfungsi selaku tutor yang membimbing. Walaupun aplikasi teknologi bisa tingkatkan keterlibatan pelajar dalam belajar, kedudukan pengajar masih dibutuhkan selaku tutor.

  5. Kerjasama Kemampuan kerja sama wajib jadi bagian berarti dalam pembelajaran berbasis Blended Learning. Perihal ini pasti berbeda dengan pembelajaran tatap muka konvensional yang seluruh peserta didik belajar di dalam kelas yang sama di dasar kontrol pengajar. Sebaliknya dalam pembelajaran berbasis blended, hingga peserta didik bekerja secara mandiri serta berkolaborasi

   6. Evaluasi Penilaian pembelajaran berbasis blended learning pastinya hendak sangat berbeda dibandingkan dengan penilaian pembelajaran tatap muka. Penilaian wajib didasarkan pada proses serta hasil yang bisa dicoba lewat evaluasi penilaian kinerja belajar pelajar bersumber pada portofolio. Demikian pula evaluasi butuh mengaitkan bukan cuma otoritas pengajar, tetapi butuh terdapat evaluasi diri oleh pelajar, ataupun penilai pelajar lain. Kholiqul Amin( 2017: 62)

Lima Kunci Blended Learning Jared Meter. Carman( 2005: 2) menarangkan terdapat 5 kunci buat melakukan pembelajaran dengan blended learning, ialah.

    1. Live Event( Pendidikan Tatap Muka) Pembelajaran langsung ataupun tatap muka secara sinkronous dalam waktu serta tempat yang sama maupun waktu sama namun tempat berbeda. Pola pembelajaran langsung masih jadi pola utama yang kerap digunakan pendidik dalam mengajar. Pola pendidikan ini butuh didesain sedemikian rupa buat menggapai tujuan pembelajaran cocok dengan kebutuhan mahasiswa.    

    2. Self- Paced Learning( Pendidikan Mandiri) Pendidikan mandiri( selfpaced learning) membolehkan partisipan belajar didik bisa belajar kapan saja serta dimana saja secara online. Ada pula konten pendidikan butuh dirancang spesial baik yang bertabiat bacaan ataupun multimedia, semacam: video, animasi, simulasi, foto, audio, ataupun campuran seluruhnya. Tidak hanya itu, pendidikan mandiri pula bisa dikemas dalam wujud novel, via website, via mobile, streaming audio, ataupun streaming video.

    3. Collaboration( Kerja sama) Kerja sama dalam pendidikan blended learning dengan mengombinasikan kerja sama antar pengajar ataupun kerja sama antar partisipan belajar. Kerja sama ini bisa dikemas lewat perangkat- perangkat komunikasi, semacam forum, chatroom, dialog, email, web, serta sebagainya. Dengan kerja sama ini diharapkan bisa tingkatkan konstruksi pengetahuan ataupun keahlian dengan terdapatnya interaksi sosial dengan orang lain

     4. Assessment( Evaluasi/ Pengukuran Hasil Belajar) Evaluasi( assessment) ialah langkah berarti dalam penerapan proses pendidikan. Evaluasi dicoba dengan tujuan buat mengenali sepanjang mana kemampuan kompetensi yang sudah dipahami oleh siswa. Tidak hanya itu, evaluasi pula bertujuan selaku tindak lanjut guru dalam penerapan pendidikan. Ada pula guru selaku perancang pendidikan wajib sanggup meramu campuran tipe assessment online serta offline baik yang bertabiat uji ataupun non- tes;

    5. Performance Support Materials( Sokongan Bahan Belajar) Bahan ajar ialah salah satu komponen berarti dalam menunjang proses pendidikan. Pemakaian bahan ajar hendak mendukung kompetensi siswa dalam memahami sesuatu modul. Dalam pendidikan dengan blended learning sebaiknya dikemas dalam bentuk digital ataupun cetak sehingga bisa diakses oleh partisipan belajar baik secara offline ataupun online. Pemakaian bahan ajar yang dikemas secara online hendaknya pula menunjang aplikasi pembelajaran online. Contoh: pemakaian bahan ajar berupa power point pada e- learning dengan basis efront. Bahan ajar ini menunjang pendidikan online sebab bisa diakses oleh partisipan didik Kelima kunci di atas mempunyai keterkaitan serta pengaruh yang signifikan dalam aktivitas pendidikan dengan blended learning. Dengan kelima kunci tersebut, pendidikan yang didesain dengan model pendidikan blended learning diharapkan bisa dilaksanakan cocok dengan tujuan pendidikan sehingga berlangsung dengan efisien serta efisien

C. Kelebihan Blended Learning

Blanded learning dikembangkan karena berbagai kelemahan yang muncul saat pembelajaran tatap muka ( face-to-face) dan e-learning. Selain dikembangkan karena adannya kelemahan dari kedua pembelajaran tersebut, blanded learning sehinnga dikembangkan karena kelebihan dari pembelajaran tatap muka (face-to-face) dan e-learning. Adapun kelebihan dari blanded learning yang dipaparkan oleh Kusairi (dalam Husamah 2014: 35), yaitu:

a. Peserta didik bebas buat menekuni modul pelajaran secara mandiri dengan menggunakan materi- materi yang ada secara online.

b. Peserta didik bisa berbicara/ berdiskusi dengan pengajar ataupun peserta didik lain yang tidak wajib dicoba dikala di kelas( tatap muka).

c.    Aktivitas pembelajaran yang dicoba peserta didik di luar jam tatap muka bisa dikelola serta dikontrol dengan baik oleh pengajar.

d.    Pengajar bisa meningkatkan modul pengayaan lewat sarana internet.

e. Pengajar bisa memohon peserta didik membaca modul ataupun mengerjakan uji yang dicoba saat sebelum pendidikan.

f. Pengajar bisa menyelenggarakan kuis, membagikan balikan serta menggunakan hasil uji dengan efisien.

g.   Peserta didik bisa silih berbagi file dengan pesera didik yang lain.

Berdasarkan yang telah diungkapkan Kusairi di atas maka dapat  disimpulan bahwa kelebihan dari Blanded Learning yaitu kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan di kelas maupun di luar kelas dengan memanfaatkan berbagai teknologi untuk menambah materi pelajaran dan soal-soal yang diberikan di kelas maupun melalui online yang dikelola dan dikontrol sedemikian rupa oleh guru supaya kegiatan pembelajaran dapat berlangsung, serta komunikasi terkait siswa dan antar guru dengan siswa yang lainnya dapat terjalin baik ketika berada di kelas maupun di luar kelas (online) dengan adannya membentuk sebuah grup diskusi sehinnga dapat memanfaatkan perkembangan teknologi di era saat ini yakni pembelajaran tanpa ada komunikasi tidak akan mampu memberikan hasil sesuai dengan harapan yang baik dari guru maupun peserta didik.  Dewey & Moore (dalam Comey; dalam Sari, 2006) mengemukakan bahwa komunikasi merupakan peranan penting dalam proses pembelajaran dan menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif.

Kelebihan dari metode pembelajaran ini cukup banyak sehingga cukup popular juga. Adapun kelebihan-kelebihan yang bisa didapatkan yakni menghemat waktu dan biaya. Peserta didik yang mengikuti metode pembelajaran ini tidak terbataskan oleh waktu dan ruang sehingga bisa dilakukan sesuai dengan keinginan dari peserta didik dari model blended learning.

Selain dari kelebihan lainnya, didapat dari beberapa kemudahan peserta didik dapat mengakses pembelajaran karena bisa didapatkan melalui online. Tutor akan memberikan materi melalui banyak cara seperti video  dan materi biasa dan bisa didapatkan dari daring. Dengan kelebihan tersebut maka hasil didapatkan akan optimal.

D. Kekurangan Blended Learning

Blended learning merupakan perpaduan dari teknologi multimedia, CD ROM, video streaming, kelas virtual, voicemail, email serta telefon conference, animasi bacaan online serta video- streaming. Seluruh ini dikombinasi dengan wujud tradisional pelatihan di kelas. Blended learning jadi pemecahan yang sangat pas buat proses pendidikan yang cocok tidak cuma dengan kebutuhan pendidikan hendak namun pula style sang pembelajar. Walaupun blended learning memiliki banyak kelebihan akan namun juga memiliki kekurangan.

Kekurangan Model Pembelajaran Blended Learning bagi Rusman( 2011: 271- 275) merupakan:

1. Keberhasilan pembelajaran blended learning tergantung pada keahlian serta motivasi pembelajaran;

2.   Akses buat mengikuti pembelajaran dengan memakai website kerapkali jadi permasalahan untuk pembelajar;

3. Pembelajar cepat merasa bosan serta jenuh bila mereka tidak mengakses data, disebabkan tidak adanya perlengkapan yang mencukupi serta bandwith yang lumayan;

4.  Diperlukan panduan untuk pembelajar buat mencari data yang relevan, sebab data yang ada di dalam website sangat bermacam- macam;

5. Dengan memakai pembelajaran berbasis website, pembelajaran tersendat bila ada keterbatasan dalam sarana komunikasi.

6. Kelemahan terbanyak dalam pembelajaran online merupakan amat minimnya interaksi langsung antara pendidik dengan peserta didik ataupun antara sesama partisipan didik.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Carman, J.M. 2005. Blended Learning Design: Five Key Ingredients. diunduh dari melalui http://www.agilantlearning.com/pdf / Blended%20 Learning%- 20Design.pdf pada tanggal 28 Juli 2021

Elaine Allen, Jeff Seaman, and Richard Garrett. (2007). Blending In The Extent and Promise of Blended Education in the United States. Sloan-C™.

Husamah. 2014. Pembelajaran Bauran ( blanded learning) Terampil Memadukan Keunggulan Pembelajaran Face-to-face, E-learning Offline-Online, dan Mobile Learning. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Idris, Husni. 2011. Pembelajaran Model Blended Learning. Jurnal Iqra’ Vol.5. No.1, Januari – Juni 2011.

Kholiqul Amin, Ahmad. 2017. Kajian Konseptual Model Pembelajaran Blended Learning berbasis Web untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Motivasi Belajar. JURNAL PENDIDIKAN EDUTAMA, Vol 4, No2 Juli 2017.

Kurtus, R. (2004). Blended Learning. Available at http://www.school-for champions.com/elearning/blended.htm [diakses 28-07-21].

Rusman. 2011. Model-model Pembelajaran, Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Raja Grafindo Perkasa


Post a Comment

0 Comments