Mengelola Kelompok (Berkebutuhan) Khusus

  Mengelola Kelompok (Berkebutuhan) Khusus

 

Mengelola Kelompok (Berkebutuhan) Khusus

A.    Manakar Pencapaian

Untuk mengidentifikasi tingkat perbedaan dalam kebutuhan dan tingkat kemampuan (yaitu, derajat heterogenitas) dalam ruang kelas, Anda sebaiknya menggunakan bebrapa sumber informasi. Sumber tersebut meliputi tes anda, pengamatan anda sendiri atas setiap siswa, dan indikator dari kinerja yang tersedia diberkas setiap siswa, termasuk penilaian dari guru sebelumnya, contoh dari pekerjaan siswa dan informasi tes pencapaian terbakukan.

B.     Mengidentifikasi Kelompok (berkebutuhan) Khusus

Istilah dan konsep anak dengan pendidikan berkebutuhan khusus (children with special needs education), yang berkembang dalam paradigma baru pendidikan yaitu dalam pendidikan inklusi. Istilah anak berkebutuhan khusus tersebut bukan berarti menggantikan istilah anak penyandang cacat atau anak luar biasa tetapi memiliki cara pandang yang lebih luas dan positif terhadap anak didik atau anak yang memiliki kebutuhan yang beragam. Kebutuhan khusus yang dimaksud dalam hal ini adalah kebutuhan yang ada kaitannya dengan pendidikan (Sunanto:2003).

Sementara James, Lynch dalam Astati (2003) mengemukakan bahwa anak yang termasuk kategori anak berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa (anak berkekurangan atau anak berkemampuan luar biasa), anak yang tidak pernah sekolah, anak yang tidak teratur sekolah, anak yang drop out, anak yang sakit-sakitan, anak pekerja usia muda, anak yatim piatu dan anak jalanan.

Dengan demikian anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang memiliki kebutuhan khusus secara sementara atau permanen dan atau kecacatan sehingga membutuhkan penyesuaian layanan pendidikan. Kebutuhan mungkin disebabkan kelainan Secara bawaan atau dimiliki kemudian, masalah ekonomi, kondisi sosial emosi, kondisi politik dan bencana alam

Setiap anak berkebutuhan khusus, baik yang bersifat permanen maupun yang temporer, memiliki hambatan belajar dan kebutuhan yang berbeda-beda. Hambatan belajar yang dialami oleh setiap anak, disebabkan oleh tiga hal yaitu (1) faktor lingkungan (2) faktor dalam diri anak sendiri, dan (3) kombinasi antara faktor lingkungan dan faktor dalam diri anak. Oleh karena itu layanan pendidikan didasarkan atas hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing anak (Alimin:2005).

 

          C.   Strategi Bagi Perbedaan Individual

Dalam bagian berikutnya kami menjabarkan strategi yang sering digunakan untuk menyesuaiakn bagi perbedaan individual dan menjelaskan pertimbangan pengelolaan yang terkait dengan mereka adapun strategi yang dilakukan yaitu

1.      Pengajaran secara tim

Para guru yang mengajar tingkatan kelas yang sama sering kali membentuk tim untuk menangani populasi siswa yang heterogen. Para siswa kemudian dapat diarahkan kembali kepada guru – guru yang ada dalam tim untuk diajari khusus

2.      Pengajaran yang interaktif

Cobalah melibatkan seluruh siswa dalam presentasi, diskusi, dan hafalan dengan melakukan usaha yang disengaja untuk menunjuk setiap siswa, tidak hanya mereka yang bersemangat merespons.

3.      Penataan tempat duduk

Para siswa yang membutuhkan pengawasan yang lebih dekat atau lebih dari pada jumlah penjelasannya yang biasanya sebaiknya duduk di barisan depan ruangan

4.      Arahan

Mintalah perhatian seluruh siswa dan berikan arahan lisan dan tertulis jika dirasa layak.

5.      Tugas – tugas

Jika anda memberikan tugas – tugas yang sama kepada seluruh siswa dalam kelas yang heterogen, tugas ini mungkin terlalu mudah bagi bebrapa siswa dan sangat sulit untuk para siswa lainnya (tidak ada ukuran tunggal).

6.      Mempertahankan tanggung jawab atas pekerjaan

Selain aturan bagi kegiatan dikelas dan prosedur bagi perilaku, pastikan untuk membuat para siswa tetap bertanggung jawab atas pekerjaan mereka.

7.      Memodifikasi pengajaran seisi kelas

Dalam beberapa mata pelajaran, penggunaan kelompok kecil bagi pengajaran adalah sesuatu yang tidak layak atau bahkan tidak diinginkan.

8.      Mengordinasi waktu dengan guru lainnya

Segera jadwalkan untuk seluruh sekolah ditetapkan untuk makan siang dan kegiatan seperti kelas musik, seni, dan pendidikan jasmani,  rencanakan sebuah jadwal dengan para guru lainnya yang senyaman mungkin bagi setiap orang.

9.      Pengajaran tembahan

terkadang kebutuhan siswa dalam beberapa wilayah mata pelajaran tidak dapat secara memadai terpenuhi dalam ruang kelas pendidikan reguler.

10.  Berpegang jadwal

Ketika jadwal kelas melibatkan tindakan menarik dan memasukan para siswa, maka berpegang pada jadwa sangat penting sehingga para siswa dapat berada dimana mereka harus berada ditempat yang tepat.

11.  Kegiatan sementara bagi para siswa yang dimasukkan

Terkadang anda mungkinj belum selesai dengan satu kelompok ketika waktu menunjukkan anda harus memenuhi kelompok yang lain

12.  Melibatkan para siswa yang kembali

Setelah menerima pengajaran di luar kelas beberapa siswa yang ditarik mungkin berleha – leha atau terlihat bingung mengenai apa yang mereka harus lakukan ketika mereka kembali keruang tersebut.

 

      D.   Bekerja dengan siswa berkebutuhan khusus.

Delphie, (2006) Klasifikasi ABK pada umumnya terbagi atas dua yaitu Anak Berkebutuhan Khusus Bersifat Sementra (Temporer) dan Anak Berkebutuhan Khusus yang Bersifat Menetap (Permanen): 1. Anak Berkebutuhan Khusus Bersifat Sementra (Temporer) adalah anak yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan disebabkan oleh faktor-faktor eksternal. Misal anak yang yang mengalami gangguan emosi karena trauma akibat pelecehan seksual sehingga anak ini tidak dapat belajar. Trauma yang dialami tersebut hanya bersifat sementara namun apabila tidak mendapatkan layanan intervensi atau penanganan yang tepat, maka kemungkinan besar hambatan belajar yang dialami anak akan menjadi permanent. Anak seperti ini memerlukan layanan pendidikan kebutuhan khusus, yaitu pendidikan yang disesuaikan dengan hambatan atau masalah belajar anak. 2. Anak berkebutuhan khusus temporer/sementra (temporary special needs) adalah (1) anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri akibat sering menerima kekerasan dalam rumah tangga, (2) mengalami kesulitan konsentrasi karena sering diperlakukan kasar oleh orang tuanya, (3) mengalami kesulitan kumulatif dalam membaca dan berhitung akibat kekeliruan guru dalam mengajar atau (4) anakanak yang mengalami trauma akibat dari bencana alam yang mereka alami. Anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanent mengalami masalah belajar dan hambatan perkembangan yang bersifat internal yang merupakan akibat langsung dari kondisi kecacatan yang dialaminya, misalnya anak yang kehilangan fungsi pendengaran, penglihatan, gangguan gerak (motorik), gangguan perkembangan kecerdasan dan kognisi, gangguan interaksi-komunikasi, gangguan emosi, sosial dan tingkah laku.

 

     E.   Mengajar siswa yang berprestasi rendah

Untuk mengatasi siswa yang berprestasi rendah dibutuhkan kerjasama antara guru, kepala sekolah dan peran orang tua. Menurut WF. Connell (1972), membedakan tujuh peran seorang guru yaitu (1) pendidik, (2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar, (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi dan (7) kesetiaan terhadap lembaga.

Beberapa metode agar siswa yang berprestasi rendah bisa belajar lebih efektif dan baik lagi. Metode yang digunakan adalah metode diskusi kelompok menurut Moh. Surya (1975: 107), mendifinisikan diskusi kelompok adalah proses dimana siswa akan mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi pengalaman mereka sendiri dalam memecahkan masalah umum.

 

      F.   Mengajar siswa yang berprestasi tinggi

Anak yang memiliki prestasi adalah keinginan semua orangtua. Namun, menjadi anak yang berprestasi tidak hanya di lingkungan sekolah tetapi juga bisa menjadi anak yang berprestasi di lingkungan keluarga atau di lingkungan sekitar. Prestasi bisa dalam bentuk prestasi akademis dan prestasi non akademis. Untuk menciptakan anak yang berprestasi harus ada turun tangan dan bantuan dari orangtua. Anda ingin memiki anak yang berprestasi di bidang akademis ataupun non akademis? Berikut tips untuk anda.

1.     Latih anak anda untuk mengatur waktu sendiri

Yang namanya anak sangat susah untuk diatur. Mereka merasa ingin bebas untuk melakukan segala sesuatu sesuka hati mereka. Untuk soal pembelajaran, anda harus mulai melatih anak anda untuk bisa mengatur waktu sendiri

2.     Menemani dan membimbing anak anda belajar dan mengerjakan PR

Pengawasan sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran yang sedang dilakukan oleh anak anda. Terkadang, disaat anak anda sedang belajar belum tentu apa yang anak anda pelajari itu benar-benar dipahami oleh mereka.

3.     Belajar dalam berbagai cara dan berbagai hal

Berbagai ilmu pengetahuan perlu diperoleh oleh anak anda tidak hanya dari lingkungan sekolah, tetapi juga diperoleh dari lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar anak anda

4.     Biasakan mereka untuk belajar mengembangkan minat dan hobi serta berikan dukungan terhadap apa yang mereka inginkan asalkan positif.

5.     Berikan anak anda motivasi dalam berbagai cara

Keberhasilan dan kegagalan pasti dirasakan oleh anak anda. Dalam kondisi apapun dan dalam hal apapun berikan mereka motivasi. Motivasi yang diberikan haruslah motivasi positif yang dapat membangkitkan semangat mereka untuk menjadi lebih baik lagi.

6.     Komunikasi orangtua dengan anak serta antara orangtua dengan pihak sekolah

Orangtua yang sibuk ataupun tidak sibuk sama-sama diperlukan perhatiannya oleh si anak. Setidaknya dalam sehari, anda harus menjalin komunikasi dengan anak anda.

7.     Terapkan rasa bertanggung jawab pada anak anda

Anak bisa menjadi orang yang berprestasi karena ajaran serta didikan dari orangtuanya. Apa yang diajarkan oleh orangtua bisa menjadi tiruan bagi anak

 

 

 

SEMOGA BERMANFAAT TERIMA KASIH

REFERENSI

 

 

Alimin, Z. 2005. Memahami Pendidikan Inklusif dan Anak Berkebutuhan Khusus. Makalah tidak diterbitkan. Bandung : Jurusan PLB FIP UPI.

Astati (2005) Pengelolaan Kelas pada Sekolah Reguler Menuju ln klusi, Tesis, Universitas Pendidi kan Indonesia

Delphie, Bandi. 2006. Pembelajaran Anak berkebutuhan Khusus Suatu Pengantar Dalam Pendidikan Inklusi. Bandung: PT. Refika Aditama

Sunanto H. 2003. Budi Daya dan Penyulingan Kayu Putih. Yogyakarta: Kanisius

Surya, Moh 1988 Dasar- Dasar Konseling Pendidikan (Konsep dan Teori). Yogyakarta: Kota Kembang.

W.F Connel. 1972. Masalah Individu Keluarga dan Masyarakat. http://pakguruonline.pendidikan.net/buku_tua_pakguru_dasar_kpdd_1 5.html. diakses pada 12 juli 2021 

 

Post a Comment

0 Comments